Klik dan lihat

Friday, June 11, 2010

Asas Peradaban Melayu dalam kaitan kebudayaan Islam

Dalam sejarah umat manusia terbukti bahwa kebudayaan yang tinggi sangat mungkin berkembang dan mengalami kemajuan dalam masyarakat kota. Perkembangannya ditentukan oleh kualiti lembaga pendidikan dan kebijakkan kebudayaan yang ditempuhi pemerintah, apakah ia akan berperanan sebagai pelindung, pemelihara dan pengembang kebudayaan, atau sebaliknya akan tampil sebagai penindas kebudayaan atau acuh tak acuh terhadap kebudayaan. Lembaga pendidikan sangat penting, kerana di situ dikembangkan berbagai metod keilmuan dan pemikiran, gagasan falsafah dan wawasan kebudayaan.

Asas Peradaban
Kecerdasan budi dan kalbu generasi muda dididik, bakat seni diberi jendela untuk berkembang ke arah yang luhur melalui jalur pendidikan. Oleh kerana itu, kementerian pendidikan tidak hanya dibatasi fungsinya sebagai tempat mengajarkan ilmu pengetahuan dan hanya bertujuan mencerdaskan akal. Kementerian pendidikan diarahkan pula sebagai tempat generasi muda mengenal kebudayaan, sejarah dan jati diri bangsanya yang terekam dalam karya-karya seni, sastra, pemikiran falsafah dan adat istiadat. Selain itu, tradisi baca tulis, semangat penelitian ilmiah, jiwa wiraswasta, kecenderungan ke arah inovasi dan kreativitas, harus ditumbuhkan melalui Kementerian pendidikan. Tiga sendi utama perkembangan budaya, iaitu bahasa, berhitung dan logika, serta budi pekerti dan estetika haruslah diberi perhatian khusus.

Universailtas nilai-nilai Islam, seperti keadilan, persamaan, kepasrahan, dan lainnya, merupakan gambaran dari konsistensi dan kosmopolitansi budaya Islam. Adanya konsep kesatuan kemanusian (wihdat al-insaniyyah, the unity of humanity) menjadi penegasan untuk membentuk pandangan budaya kosmopolit, iaitu sebuah pola budaya yang konsep-konsep dasarnya meliputi dan diambil dari budaya seluruh umat manusia.

Refleksi kosmopolitisme sebuah kebudayaan, baik yang bersifat material (seni, arsitektur dan sebagainya) maupun yang bersifat intelektual (karya tulis), boleh dipastikan berangkat dari semangat mereka tentang kesatuan kemanusiaan tersebut. Peradaban itu pun muncul tidak lepas dari interaksi dan konsensus bersama tentang sesuatu yang dianggap memiliki kebaikan-kebaikan universal. Ketika kebaikan itu dianggap sebagai hasil konsensus, maka satu sama lain mestilah merasa terikat oleh kesepakatan yang dibangun bersama tersebut.

Selain itu, semua firman primordial ketuhanan, yang termanifestasi dalam bentuk kitab suci al-Qur’an, merupakan sumber dari seluruh bunyi. Dan alam semesta menjadi sumber musikal bagi peradaban Islam adalah “penjelmaan” visual dari firman Allah tersebut. Kreatifitas ilahiyah yang terwujud dalam tinta Pena Ilahi (al-Qalam), yang menuliskan hakikat segala sesuatu (al-Haqaiq) diatas Lembaran yang Terpelihara (al-lawh al_mahfuzh) pada setiap halaman al-Quran sebagai “induk segala buku” (Umm al-Kitab), adalah manifestasi dari Kreativitas Allah yang tiada habis-habisnya.

Kesinambungan
Pada aras ini, muncul berbagai tradisi dan seni yang par exellence dari al-Quran. Tilawah al-Quran al-Karim dan kaligrafi menjadi gambaran atas keindahan yang bersiaf musikal dan tulisan-Nya di atas lawh al-mahfuzh tersebut. Misalnya seni kaligrafi al-Quran, tidak saja mencuba menyuarakan kebenaran wahyu Islam, tetapi juga menggambarkan tanggapan jiwa orang-orang Islam terhadap pesanan Ilahi. Titik-titik yang ditulis oleh Allah menciptakan pola dasar syurgawi dan garis-garis merupakan kandungan dari hukum alam yang tidak hanya membentuk ruang angkasa, namun juga ruang arsitektur Islam. Kaligrafi ini, telah menduduki posisi penting yang sangat istimewa dalam Islam, sehingga dapat disebut sebagai warisan leluhur seni visual Islam tradisional dan memiliki jejak yang sangat istimewa dalam peradaban Islam.

Konsekuensinya adalah lahirnya sistem bahasa sebagai simbol keindahan dan kreativitas ilahiyah untuk mengomunikasikan setiap pesan dari keindahan tersebut. Oleh sebab itu, pada abad-abad peradaban Islam muncul berbagai penulisan sastra, falsafah, metafisika, dan lainnya. Di Asia Tenggara, pada abad ke 16/17 M, kita dapat menyaksikan kesuburan berbagai karya intelektual dan tradisi, yang oleh Naquib al-Attas dianggap sebagai masa yang tidak ada tandingannya di Asia Tenggara.

Fakta itu merupakan cikal bakal dari signifikansi tradisi Islam dalam bentuk pembinaan peradaban Melayu. Hal ini, dapat dilihat bagaimana pertautan antara bahasa Melayu dengan bahasa Tuhan (Arab) untuk memperkaya kosa kata dalam mengeskpresikan setiap keindahan Tuhan dan Alam Semesta. Sejalan dengan itu, proses transmisi agama Islam di kawasan kejiranan, sastra dan tradisi Melayu turut berkembang dan sarat dengan pemikiran dan nilai-nilai Islami, misalnya kemunculan Hamzah Fansuri, Samsudin al-Sumatrani, Abdul Rauf Singkel, dan Nurudin al-Raniri, Raja Ali Haji dan Syekh Abdurrahman, adalah refleksi atas kepaduan antara Islam-Tradisi, dalam hal ini Ulama-Penyair.Sudah Pasti karya mereka itu akan ku rindui untuk santapan jiwa dan rohani.

No comments:

Post a Comment